Search This Blog


Saturday, July 10, 2010

Pembukaan Segala Rahsia: RENUNGAN

Pembukaan Segala Rahsia: RENUNGAN

Saturday, June 19, 2010

Bingkisan Istimewa untuk Saudariku Agar Bersegera Meninggalkan Nasyid “Islami” (2)

Kesimpulannya, Apakah Ada Nasyid Islami?

Tentang masalah ini, Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata, "Penyebutan dengan nama ini sama sekali tidak benar. Itu merupakan penamaan baru. Di seluruh kitab para salaf ataupun pernyataan para ulama tidak ada nama nasyid Islami. Yang ada, bahwa orang-orang sufi menciptakan lagu-lagu yang dianggap sebagai agama, atau yang disebut dengan sebutan as-sama'."

Dari penjelasan Syaikh Shalih Al Fauzan di atas, jelaslah bahwa nasyid bukanlah ajaran Islam dan tidak boleh dinisbatkan kepada Islam. Seandainya nasyid merupakan bagian dari Islam, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabat tentu akan berlomba-lomba mengamalkannya. Akan tetapi, adakah atsar yang menceritakan bahwa mereka radhiyallahu 'anhum mendendangkan nasyid?

Syubhat yang biasanya datang dari orang-orang yang menggemari "musik Islami" (nasyid) adalah mereka berdalil bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah dibacakan syair-syair di hadapan beliau dan beliau mendengarkannya, bahkan beliau pernah meminta shahabat untuk membacakannya.

Jawaban untuk permasalahan ini adalah bahwa syair-syair yang dibacakan di hadapan Nabi shallallohu 'alaihi wa sallam
tidaklah dilantunkan dalam bentuk paduan nada/suara dengan lirik lagu, tetapi itu hanyalah sekadar bait-bait syair Arab yang berisi kata-kata bijak dan tamsil, penggambaran sifat keberanian dan kedermawanan.

Para shahabat pada saat itu melantunkan syair saat melakukan pekerjaan yang berat, seperti ketika sedang membangun, berada di medan perang, atau melakukan perjalanan yang jauh (dengan tidak disertai alunan musik). Hal ini menunjukkan bolehnya melantunkan jenis syair ini dan dalam kondisi-kondisi khusus semacam itu. Tidak seperti zaman sekarang, di mana nasyid didendangkan setiap saat, bahkan nasyid dijadikan sebagai mata pencaharian. Wal iyyaa dzu billaah.

Berikut ini kami nukilkan fatwa dari Al 'Allamah Hamud bin Abdillah At-Tuwaijiri,

"Sesungguhnya sebagian nasyid yang banyak dilantunkan para pelajar di berbagai acara dan tempat pada musim panas, yang mereka namakan dengan nasyid-nasyid Islami, bukanlah ajaran Islam. Sebab, hal itu telah dicampuri dengan nyanyian, melodi, dan membuat girang yang membangkitkan (gairah) para pelantun nasyid dan pendengarnya. Juga mendorong mereka untuk bergoyang serta memalingkan mereka dari dzikrullah, bacaan Al Qur'an, mentadabburi ayat-ayatnya, dan mengingat apa-apa yang disebut di dalamnya berupa janji, ancaman, berita para nabi dan umat-umat mereka, serta hal-hal lain yang bermanfaat bagi orang yang mentadabburinya dengan sebenar-benar tadabbur, mengamalkan kandungannya, dan menjauhi larangan-larangan yang disebutkan di dalamnya, dengan mengharap wajah Allah subhanahu wa ta'ala, dari ilmu dan amalannya."

"Barangsiapa megqiyaskan nasyid-nasyid yang dilantunkan dengan lantunan nyanyian, dengan syair-syair para shahabat radhiyallahu 'anhum tatkala mereka membangun Masjid Nabawi, menggali parit Khandaq, atau mengqiyaskan dengan syair perjalanan yang biasa diucapkan para shahabat atau untuk memberi semangat kepada untanya di waktu bepergian, maka ini adalah qiyas yang batil. Sebab para shahabat radhiyallahu 'anhumtidak pernah bernyanyi dengan syair-syair tersebut dan menggunakan lantunan-lantunan yang membuat girang…"

Bagaimana Nasyid Menjadi Bid'ah?

Sebagaimana telah dijelaskan pada artikel yang telah lalu, bahwa bid'ah adalah perkara baru yang diada-adakan dalam agama. Maka, penamaan nasyid Islami adalah perkara baru yang diada-adakan (muhdats) dan tidak ada contoh dari Nabi yang mulia shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan amalan yang tidak ada contohnya dari Nabi, maka amalan itu tertolak.

Tidak ada satupun riwayat yang shahih yang menyebutkan tentang pensyari'atan nasyid atau penggolongan nasyid sebagai bagian dari agama. Adapun menjadikan nyanyian dan musik sebagai bagian dari agama adalah pemahaman yang dimiliki oleh kaum sufi, sebagaimana telah diterangkan di atas. Selain itu, beribadah dengan menyanyikan sya'ir adalah kebiasaan orang-orang musyrik. Dan kaum Nashara pun menjadikan nyanyian sebagai bentuk dzikir dan do'a mereka.

Para Nabi 'alaihimush sholatu wa sallam dan para Shahabat radhiyallahu 'anhum serta para Salafush Shalih tidak pernah bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah 'Azza wa Jalla dengan menggunakan nasyid-nasyid Islami seperti yang ada pada zaman sekarang. Adapun sya'ir-sya'ir yang mereka lantunkan pada waktu-waktu tertentu dimaksudkan sebagai pengobar semangat ketika bekerja atau berperang, dan mereka tidak berlebihan dalam hal ini dan tidak pula menjadikannya sebagai kebiasaan.

Nasyid juga bukan merupakan metode dakwah yang pernah dilakukan oleh para Nabi'alaihimush sholatu wa sallam, dan tidak pula para Shahabat radhiyallahu 'anhum pernah melakukannya. Seandainya nasyid itu dikatakan sebagai metode dakwah, maka dengan begitu pelakunya telah mengatakan bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallambelum sempurna dalam menyampaikan risalah, karena beliau belum mengabarkan tentang berdakwah dengan nasyid.

Sementara Allah Ta'ala telah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia,

"Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam sebagai agamamu." (Qs. Al-Maaidah: 3)

Ayat di atas sebagai penjelas bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyampaikan keseluruhan risalah yang disampaikan oleh Rabbnya melalui perantara Malaikat Jibril 'alaihis salam. Maka, apa-apa yang tidak termasuk syari'at pada hari itu, dia tidak akan menjadi syari'at pada hari ini dan hari-hari berikutnya. Dan pada hari itu, Allah dan Rasul-Nya tidak memasukkan nasyid sebagai syari'at Islam, maka apakah nasyid dapat menjadi syari'at pada hari ini..?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Bid'ah lebih disukai oleh iblis daripada maksiat, oleh karena itu orang-orang yang menghadiri permainan atau sesuatu yang melalaikan, dia (sendiri) tidak menganggapnya (perbuatannya tersebut) sebagai amalan shalihnya dan tidak mengharapkan pahala dengannya (maka itulah maksiat). Akan tetapi barangsiapa yang melakukannya dengan dasar (keyakinan) bahwasanya itu adalah suatu jalan (untuk bertaqarrub) kepada Allah, maka dia akan menjadikannya sebagai agama. Jika dilarang darinya, maka dia akan seperti orang yang dilarang dari agamanya dan memandang bahwa sungguh dia telah terputus (hubungannya) dari Allah, dan telah diharamkan bagiannya (pahalanya) dari Allah ta'ala jika dia tinggalkan.

Tidak ada seorang pun dari para imam kaum muslimin yang mengatakan bahwa menjadikan hal ini (nasyid-nasyid Islam atau nasyid sufi) sebagai agama, jalan mendekatkan diri kepada Allah adalah suatu hal yang mubah. Bahkan, barangsiapa yang menjadikan hal ini sebagai agama dan jalan menuju kepada Allah ta'ala maka dia adalah orang yang sesat dan menyesatkan, orang yang menyelisihi ijma' (kesepakatan) kaum muslimin."

Perkara Buruk Akibat Nasyid Islami

"Sesungguhnya penamaan nasyid-nasyid yang dilantunkan dengan nyanyian sebagai nasyid Islami, menyebabkan timbulnya perkara-perkara jelek dan berbahaya. Di antaranya:

  1. Menjadikan bid'ah ini sebagai bagian ajaran Islam dan penyempurnanya. Ini mengandung unsur penambahan terhadap syari'at Islam, sekaligus pernyataan bahwa syari'at Islam belum sempurna di zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Hal ini bertentangan dengan firman Allah 'Azza wa Jalla,

    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ

    "Pada hari ni telah Kusempurnakan untukmu agamamu." (Qs. Al Ma'idah: 3)

    Ayat yang mulia ini merupakan dalil yang menunjukkan kesempurnaan agama Islam bagi umat ini. Sehingga pernyataan bahwa nasyid yang berlirik (lagu) tersebut sebagai Islami, mengandung unsur penentangan terhadap dalil ini, dengan menyandarkan nasyid-nasyid yang bukan dari ajaran Islam kepada Islam dan menjadikannya sebagai bagian darinya.

  2. Menisbahkan kekurangan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam menyampaikan dan menjelaskan kepada umatnya. Di mana beliau tidak menganjurkan mereka melantunkan nasyid secara berjama'ah (baca: koor) dengan lirik lagu. Tidak pula beliau shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan kepada mereka bahwa itu adalah nasyid Islami.
  3. Menisbahkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya bahwa mereka telah menelantarkan salah satu ajaran Islam dan tidak mengamalkannya.
  4. Menganggap baik bid'ah nasyid yang dilantunkan dengan irama nyanyian, dan memasukkannya sebagai ajaran Islam.

Palingkan Lisan dan Pendengaranmu dari Sesuatu yang Sia-sia Itu

Sungguh banyak kita jumpai orang-orang yang hafal berpuluh-puluh lagu dan nasyid, bahkan mungkin lebih dari itu. Akan tetapi, sayangnya, hafalannya terhadap Al Qur'an sangatlah sedikit. Untuk menghafal Al Qur'an, dia bermalas-malasan dan beralasan tidak punya kesempatan untuk itu karena terlalu banyak kegiatan. Padahal, sering setiap harinya dia gunakan waktunya untuk mendengarkan musik atau nasyid.

Terkadang mereka beralasan bahwa mereka mendengarkan nasyid untuk menghibur dan menenangkan hatinya serta menghilangkan stress. Jika pikiran mereka sedang kalut, gundah, atau sedang futur dalam iman, maka mereka mendengarkan nasyid sebagai hiburan dan membangkitkan keimanannya. Padahal, Allah 'azza wa jalla berfirman,

أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَى لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ

"Apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) yang dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Qur'an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman." (Qs. Al Ankabut: 51)

Syaikh Ibnu Sa'diy menjelaskan tafsir ayat ini, "Semua itu sudah cukup bagi orang yang menginginkan kebenaran dan berbuat untuk mencari kebenaran. Namun Allah tidak mencukupkan bagi orang yang tidak merasa mendapatkan kesembuhan dengan Al Qur'an. Siapa yang merasa cukup dengan Al Qur'an dan menjadikannya sebagai petunjuk, maka dia mendapatkan rahmat dan kebaikan. Karena itulah Allah berfirman (yang artinya) 'Sesungguhnya dalam (Al Qur'an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman'. Pasalnya, di dalam Al Qur'an bisa didapatkan ilmu yang banyak, kebaikan yang melimpah, pensucian bagi hati dan ruh, membersikan aqidah dan menyempurnakan akhlak, di dalamnya terkandung pintu-pintu Ilahi dan rahasia-rahasia Robbani."

Saudariku, daripada engkau melenakan dirimu dengan nasyid, sungguh jauh lebih baik jika kau sibukkan dirimu untuk membaca Al Qur'an, mentadabburinya, dan menghafalnya. Coba engkau bandingkan antara Al Qur'an dengan nasyid yang kau sukai, apakah kau mendapatkan ilmu yang banyak, kebaikan yang melimpah, serta pensucian hati dan ruhmu dari nasyid? Renungkanlah, apa yang engkau peroleh dari setiap huruf nasyid jika dibandingkan dengan Al Qur'an yang mana kau bisa mendapatkan sepuluh kebaikan dari setiap hurufnya. Maka sungguh merupakan suatu kerugian dan kebodohan jika engkau berpaling dari Al Qur'an dan menyibukkan diri dengan nasyid.

Saudariku, semoga Allah melembutkan hatimu sehingga engkau bisa menerima penjelasan di atas. Maka, tinggalkanlah sesuatu yang sia-sia itu, sekarang juga. Daripada kau buang-buang waktumu untuk mendengarkan nyanyian, lebih baik kau gunakan untuk belajar ilmu syar'i, menghafal Al Qur'an dan hadits, basahi lisanmu dengan dzikir kepada-Nya. Cukuplah hadits berikut ini sebagai hujjah untukmu, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Di antara sebagian dari kebaikan keislaman seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya."(HR. Tirmidzi)

Dengan demikian saudariku, dapat kita simpulkan bahwa nasyid tidaklah mendatangkan manfaat bagi kita kecuali hanya sedikit (terbatas pada nasyid yang dibolehkan). Islam tidak pernah mensyari'atkan nasyid, akan tetapi Islam mensyari'atkan untuk berdzikir kepada Allah, mentadabburi al-Qur'an dan mempelajari ilmu yang bermanfaat. Dan sesungguhnya berdzikir yang paling afdhal adalah dengan membaca al-Qur'an, sebagaimana telah disebutkan dalam firman-Nya,

"Dan Kami turunkan al-Qur'an yang merupakan obat penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (Qs. Al-Israa': 82)

Wallahu Ta'ala a'lam bish showab.

Penulis: Ummu Sufyan Rahmawaty Woly dan Ummu Ismail Noviyani Maulida
Muroja'ah: Ust. Aris Munandar

Maraji':

Adakah Musik Islami?, Muslim Atsari, cet. Pustaka at-Tibyan
Al-Qaulul Mufiid fii Hukmil an-Naasyiid, Isham 'Abdul Mun'im al-Murri, cet. Maktabah al-Furqan
Buletin an-Nur-Musik Dalam Kacamata Islam, edisi Senin 12 Mei 2008
Hukum Lagu, Musik, dan Nasyid, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, cet. Pustaka at-Taqwa
Nasyid Bid'ah? (Terjemah Al Qoulul-Mufid fi Hukmil-Anasyid) karangan Ishom Abdul Mun'im Al Murry
Majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XI/1428 H/2007 M

Majalah An-Nashihah Volume 06 Th. 1/1424 H/2004 M

Wednesday, June 2, 2010


SELAMAT DATANG KE MARPPIN BLOG

Thursday, May 20, 2010

إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

"Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu". (At-Thalaq:3)

Sunday, March 14, 2010

SOLAT

MUSLIMIN DAN MUSLIMAT,

LELAKI ISLAM DAN PEREMPUAN ISLAM


 

DIRIKANLAH

SOLAT

Solat

Semua muslimin dan muslimat , lelaki Islam dan perempuan Islam, Kerjakan solat.

Saturday, March 13, 2010

Saturday, January 16, 2010

Perlaksanaan Fungsi masjid sebagai Pusat Pengajaran dan Pembelajaran

Mohd Faizal bin Othman

Unit Pengajian Am

Kolej Komuniti Kepala Batas

Kementerian Pengajian Tinggi Malaysia

No.87, Lorong Bertam Indah 1,

Taman Bertam Indah,

13200 Kepala Batas, Seberang Perai.

Tel: 04-5755930, Fax : 04-5759300

h/p :019-5962510

mdfaizaloth@gmail.com


 


 

ABSTRAK


 

Masjid merupakan satu institusi yang unggul dalam pembangunan ummah dan rumah Allah yang suci yang mempunyai taraf dan kedudukan paling istimewa di sisi Allah S.W.T. dan Rasul-Nya, bukan sahaja berfungsi sebagai pusat ibadat atau tempat solat tetapi sebagai pusat pembinaan dan pembangunan ummah yang meliputi pusat pengembangan ilmu dan penyebaran dakwah Islamiah, di samping menjadi pusat kebajikan dan perpaduan umat Islam setempat. Terdapat dua bidang didalam pengurusan masjid. Yang pertama dipanggil pengurusan fizikal masjid supaya ianya terperlihara dan bermanfaat kepada semua dan kedua ialah pengurusan fungsi masjid yang mana ianya meliputi pendidikan dan pembangunan ummah dalam semua aspek, akhirat dan dunia. Umum mengetahui peranan dan fungsi masjid tetapi usaha-usaha untuk merealisasikan fungsi-fungsi masjid sebagaimana mestinya memerlukan pengetahuan dan pemahaman yang tinggi supaya ianya menjadi nyata. Pengurusan yang mantap merupakan prasyarat mutlak memperkasakan masjid sebagai pusat pengajaran dan pembelajaran. Mengambilkira aspek-aspek ini, kertas kerja ini akan membicarakan usaha-usaha untuk merealisasikan fungsi-fungsi masjid sebagai pusat pengajaran dan pembelajaran yang terunggul dalam pembangunan ummah.

Monday, January 11, 2010

PEREMPUAN SATU ANUGERAH...


1. Doa perempuan lebih makbul daripada lelaki kerana sifat penyayangnya yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah s.a.w. akan hal tersebut, jawab Baginda s.a.w., "Ibu lebih penyayang daripada bapa dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia".

2. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah s.w..t. mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebajikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan

3. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah s.w.t. mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah s.w.t.


4. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.

5. Apabila telah lahir anak lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.

6. Apabila semalaman ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit,maka Allah s.w.t. memberinya pahala seperti memerdekakan 70 hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah s.w.t.

7. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, darjatnya seumpama orang yang sentiasa menangis kerana takutkan Allah s.w.t. dan orang yang takutkan Allah s.w.t., akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.

8. Barangsiapa membawa hadiah, (barang makanan dari pasar ke rumah lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah). Hendakla h mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail.

9. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah s.w.t. memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun).

10. Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadhan,memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana sahaja yang dikehendaki.

11. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 1,000 lelaki yang soleh.

12. Aisyah berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah s.a.w, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita? Jawab Rasulullah s.a..w., "Suaminya". "Siapa pula berhak terhadap lelaki?" Jawab Rasulullah s.a.w, "Ibunya".

13. Apabila memanggil akan engkau dua orang ibubapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.

14. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya serta menjaga sembahyang dan puasanya.

15. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.

16. Syurga itu di bawah tapak kaki ibu.

17. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Nabi s.a.w) di dalam syurga.

18. Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya syurga.

19. Daripada Aisyah r.a. "Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuan lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka."

Dicatat oleh umuaiman di 4:55 AM

Tuesday, December 1, 2009

SENARAI ARTIKEL ULAMA NUSANTARA karya ALLAHYARHAM USTAZ WAN MOHD SHAGHIR ABDULLAH


Peranan ulama dalam silat


KARYA-KARYA ULAMA PATANI


Karya ulama Patani dalam ilmu usuluddin dan tasawuf


Peranan ulama Patani di dunia perantauan


Koleksi tulisan ALLAHYARHAM WAN MOHD. SHAGHIR ABDU...


Kehebatan ulama Melayu Ahli Sunnah wal Jamaah


Ulama dunia Melayu sebagai pelopor Melayu Islam


Dunia Melayu menurut Sheikh Ahmad al-Fathani


Saidina Ali dalam karya-karya Melayu


Pengaruh dan pemikiran Saidina Ali di Alam Melayu


Penulisan hadis tokoh ulama Nusantara


Tulisan ulama Melayu dalam kesusasteraan Arab


Kiai Khalil Abu Ammar pakar ilmu Arabiah di Selangor


Kiai Haji Husain Haji Abbas Pendiri pondok di Sijangkang


Tokoh-tokoh ulama Selangor


Sistem ejaan kitab klasik Melayu/Jawi


Saiyid Muhammad Saiyid Zainal Abidin al-Aidrus


Sheikh Abdus Samad al-Falimbani


Kewarakan Imam Haji Muhammad Jamin


Pak Tuan Alim Ambon ulama sufi


Karya bahasa Melayu Sheikh Ahmad al-Fathani


Gelaran tertinggi diterima Syeikh Ahmad al-Fathani


Keilmuan Sheikh Ahmad al-Fathani diiktiraf ulama dunia


Sheikh Ahmad al-Fathani


Sheikh Daud Al-Asyi dan keturunannya


Wan Abdur Rahman Pendiri Masjid Jami' Sabang Barat


Sheikh Idris Al-Marbawi pengarang Bahrul Mazi


Harapan Sheikh Ahmad al-Fathani menerusi puisi


Puisi pujian, penghargaan kepada Sultan Terengganu


Ilmu-ilmu hadis Sheikh Ahmad Al-Fathani


Sheikh Ahmad Al-Fathani ulas sains dan teknologi


Sheikh Ahmad Al-Fathani dan media cetak


Sheikh Ahmad al-Fathani,organisasi dan politik


Sheikh Ahmad al-Fathani dan pelbagai ilmu


Kelahiran Sheikh Ahmad Al-Fathani rahmat bagi umat Islam




Tokoh-tokoh penyebar Islam di Asia Tenggara


Kiai Abdul Madjid ulama Madrasah At-Taufiqiyah


Tuan Guru Ahmad al-Kalantani pengarang kitab Darul Hasan


Pengkaryaan ulama Sambas, Sanggau dan Sintang


Mengenali karya ulama, tokoh Kalimantan Barat


Ulama-ulama Pontianak dan karya mereka - (Bahagian 3)


Ulama-ulama Pontianak dan karya mereka (bhg.2)


Mengenali pelbagai karya ulama Borneo


Ulama rujukan Sheikh Daud Abdullah al-Fathani


Daud al-Fathani tokoh Tarekat Syathariyah


Pandangan Sheikh Daud al-Fathani mencakupi ilmu dunia dan akhirat


Syeikh Daud al-Fathani pengarang ulung Asia Tenggara


Murid Sheikh Daud Al-Fathani yang menjadi ulama alam Melayu


Salasilah Sheikh Daud Abdullah Fathani


Ulama hasil perkahwinan Sheikh Muhammad Arsyad al-Banjari


Keturunan Sheikh Muhammad Arsyad Al-Banjari


Syeikh Shafiyuddin al-Abbasi Datuk Seri Raja Faqih


Syeikh Burhanuddin Ulakan penyebar Islam di Minangkabau


Baba Daud Ar-Rumi Al-Jawi murid Sheikh Abdul Rauf Al-Fansuri


Sheikh Abdus Shamad Al-Falimbani penulis prolifik


Sheikh Abdus Shamad Al-Falimbani wafat sebagai syuhada


Syeikh Abdus Shamad Al-Falimbani ulama sufi penegak jihad


Syeikh Abdur Rahman Pauh Bok


Syeikh Abdul Jalil al-Mahdani - Guru agama Sultan Kedah


Syeikh Abdul Ghafur bin Abbazs Al-Maduri


Haji Abdul Ghaniu Al-Buthuni penentu undang-undang kerajaan Buton


Syeikh Abbas Kutakarang ahli astrologi dunia Melayu


Syeikh Abdullah Muhammad Siantan


Syeikh Ali Faqih al-Fathani Mufti Kerajaan Mempawah


SYEIKH ABDUR RAUF FANSURI pentafsir al-Quran pertama dalam bahasa Melayu


Raja Ali Haji pujangga Melayu termasyhur


Wan Muhammad Sheikh Shafiyuddin ketua delegasi Sultan Patani ke Siam


Faqih Wan Musa Al-Fathani pengasas Pondok Sena Patani


Syeikh Syamsuddin Abdullah As-Sumatra-i ulama dan pembesar Aceh


Saiyid Barakat Zainil Alam


Keturunan Syeikh Ibrahim sebar Islam di Pulau Jawa


Syeikh Wan Husein anak kelima Syeikh Ibrahim al-Hadrami


Ulama dari keturunan Syeikh Ibrahim al-Hadhrami


Saiyid Jamaluddin al-Kubra datuk nenek ulama Melayu


Malikush Shaleh penyelamat kerajaan Islam Samudera Pasai


Syeikh Abdullah Al-Qumairi ulama dan pencipta nama Kedah Darul Aman


Syeikh Abdur Rasyid Al-Fathani - Tok keramat Pulau Bidan


Megat Sati Al-Asyi murid Syeikh Nuruddin Ar-Raniri


Faqih Ali Al-Malbari moyang dan ulama raja-raja Melayu


Ibnu Syeikh Abdul Mu'ti -- Penyusun Ilmu Tajwid pertama Bahasa Melayu


Haji Mahmud Raman Terengganu ulama, penyalin pelbagai manuskrip Melayu


Raja Ahmad Riau pengasas 'al-Ahmadiah' di Singapura


Tuanku Tambusai pejuang Melayu Riau


Imam Ishak Rawa perintis dokumentasi ulama Rawa


Syeikh Muhammad Murid Rawa pengulas hadis dan fikah


Syeikh Muhammad Murid Rawa


Syeikh Muhammad Khatib Langien penyebar Tarekat Syathariyah


Syeikh Muhammad Zainuddin As-Sumbawi pengarang Sirajul Huda


Tuan Guru Haji Ibrahim Rembau


Syeikh Muhammad Zain Nuruddin Batu Bahara Indera Pura


Haji Abdur Rahman Limbong ulama dan pahlawan Melayu


Sheikh Syihabuddin dimuliakan kerajaan Riau-Lingga


Muhammad Thaiyib penerus tradisi ulama Banjar


Syeikh Wan Senik Karisiqi moyang Syeikh Daud Al-Fathani


 Wan Husein As-Sanawi Al-Fathani Hafiz pendiri Masjid Teluk Manok


 Syeikh Wan Ali Al-Fathani penyebar Thariqat Sammaniyah


Haji Wan Muhammad Mufti Sultan Perak Darul Ridzuan


Syeikh Jalaluddin Al-Asyi kesinambungan aktiviti ulama Aceh


Haji Muhammad Sa'id Arsyad tokoh litografi Melayu-Islam


Haji Abdur Rahman al-Mandaili penyusun kamus tiga bahasa


Tok Bendang Daya hulubalang Fathani Darus Salam


Haji Muhammad Datuk Laksamana Al-Yunusi


Tok Kenali ulama peringkat wali


Abdul Qadir Tuan Minal ulama dan ayah seorang pejuang


Tok Ku Paloh Al-Aidrus pejuang Islam dan bangsa Melayu


Saiyid Muhammad Al-'Aidrus Bapa Kesusasteraan Melayu Terengganu


Syeikh Junid Thala ulama terkenal di Mandailing dan Perak


Syeikh Faqih Ali al-Fathani tokoh pertama menulis sejarah Patani


Saiyid Alwi bin Thahir al-Haddad Mufti Kerajaan Johor


Saiyid Muhsin al-Masawi pengasas Dar al-Ulum di Mekah


Syeikh Zubeir al-Filfulani tokoh pendidikan Islam Malaysia


Syeikh Muhammad Sa'id Pasai bermakam di Tanah Ujung Lidah


Syeikh Muhammad Arifin Syah


Gusti Jamiril tokoh ulama, raja dan pahlawan


HAJI MUHAMMAD LIP pengasas Pondok Ribath


Syeikh Muhammad Zain Simabur Mufti Kerajaan Perak


Syeikh Mahmud Syarwani dari Mekah berhijrah ke Nusantara


Syeikh Abdur Rauf Al-Bantani Khalifah Tarekat Qadiriyah


Syeikh Abdul Bashir mata buta tetapi memandang dengan hati


Raja Haji pahlawan teragung Nusantara


Syeikh Syihabuddin Al-Jawi ulama Palembang atau Pahang?


Syeikh Yusuf Makasar pembela dan penjunjung kebenaran


Tok Ku Melaka ulama Terengganu keturunan Nabi Muhammad


Tok Pulai Chondong ulama sufi berwibawa Kelantan


Saiyid Abdullah Az-Zawawi Mufti Syafi'iyah Mekah


Saiyid Abdullah Al-Ghadamsi sebarkan ilmu dari Libya ke Malaysia


Syeikh Utsman Syihabuddin ulama Pontianak


Haji Wan Muhammad Al-Kalantani Mufti Kelantan yang ke-IV


Haji Ismail Mundu Mufti Kerajaan Kubu


Syeikh Abdul Wahhab Siantan mufti dan guru kerajaan Riau-Lingga


Tuan guru Abdul Hamid Besut anak murid Tuan Bendang Daya


Syeikh Muhammad Salleh putera penerus warisan Tok Kenali


Tok Syeikh Duyung syeikhul ulama Terengganu


Pehin Datu Imam Haji Mokti imam terkenal Brunei


Muhammad Jabir As-Sambasi Khatib Sidana Kerajaan Sambas


Basiyuni Imran Maharaja Imam Sambas


Datuk Haji Ahmad Ulama Brunei Darussalam


Tok Bermin al-Fathani cergas, cermat dan kemas


Syeikh Muhammad Nur Al-Fathani pembesar dua pemerintah Mekah


Syeikh Hasan Ma'shum Mufti Kerajaan Deli


Haji Rasul Amrullah tokoh tajdid Nusantara


Tuanku Kisa-i al-Minankabawi lahirkan tokoh besar Hamka


Saiyid Abdullah Az-Zawawi Mufti Syafi'iyah Mekah


Saiyid Abdullah Al-Ghadamsi sebarkan ilmu dari Libya ke Malaysia


Syeikh Utsman Syihabuddin ulama Pontianak


Haji Ismail Mundu Mufti Kerajaan Kubu


Haji Wan Muhammad Al-Kalantani Mufti Kelantan yang ke-IV


Syeikh Abdul Wahhab Siantan mufti dan guru kerajaan Riau-Lingga


Tuan guru Abdul Hamid Besut anak murid Tuan Bendang Daya


Syeikh Muhammad Salleh putera penerus warisan Tok Kenali


Tok Syeikh Duyung syeikhul ulama Terengganu


Pehin Datu Imam Haji Mokti imam terkenal Brunei


Basiyuni Imran Maharaja Imam Sambas


Muhammad Jabir As-Sambasi Khatib Sidana Kerajaan Sambas


Datuk Haji Ahmad Ulama Brunei Darussalam


Tok Bermin al-Fathani cergas, cermat dan kemas


Syeikh Muhammad Nur Al-Fathani pembesar dua pemerintah Mekah


Syeikh Hasan Ma'shum Mufti Kerajaan Deli


Syeikh Sulaiman ar-Rasuli pahlawan Mazhab Syafie


Syeikh Abdul Rahman Minangkabau Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah


Pengembaraan dan pengubatan Muhammad Umar


Saiyid Utsman Betawi - Mufti paling masyhur


Syeikh Nuruddin ar-Raniri Ulama ahli debat


Syeikh Ahmad Yunus Lingga - Pakar bahasa Melayu di Mekah


Syeikh Hamzah al-Fansuri Sasterawan sufi agung


Raja Badariyah - Cendekiawan Istana Riau


Syeikh Muhammad al-Fathani - Ulama pembesar Turki


Raja Ahmad doktor kerajaan Riau


Kiyai Muhammad Shalih al-Fathani - Ahli falak Nusantara


Raja Muhammad Sa'id - Cendekiawan Istana Riau


Syeikh Uthman Jalaluddin Penanti menguasai pelbagai bidang ilmu


Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari - Ulama sufi dunia Melayu


Fakhruddin al-Falimbani - Ulama Kesultanan Palembang Darus Salam


Syeikh Abu Bakar Palakka - Penyambung aktiviti Syeikh Yusuf Makasar


Yusuf Saigon al-Banjari - Ulama hartawan


Mufti Jamaluddin al-Banjari - Ahli undang-undang Kerajaan Banjar


Husein al-Qadri - Penyebar Islam Kalimantan Barat


Syarif Abdur Rahman al-Qadri - Sultan pertama kerajaan Pontianak


Wan Fatimah al-Kalantani - Wanita Melayu alim di Mekah


Syeikh Abdul Wahid al-Juhuri - Mengislamkan Sultan Buton


Syeikh Abdul Qadir al-Fathani - Khalifah Syeikh Daud al-Fathani


Imam Muhammad Dahlan - Ulama Jawa termasyhur di Selangor


Tok Selehor Kelantani - Berdakwah lewat puisi


Tuan Mukhtar Bogor - `Ulama' ahli syari'at dan haqiqat


Syeikh Mahfuz at-Tarmasi - Ulama hadis dunia Melayu


Syeikh Abdul Hamid Kudus pakar Ilmu Arudh, Qawafi


Syeikh Ismail al-Minankabawi - Penyebar al-Khalidiyah pertama


Muhammad Khalil al-Maduri - Guru ulama Jawa, Madura


Syeikh Arsyad Thawil al-Bantani - Ulama jihad di Banten


Tok Kelaba al-Fathani - Menyalin pelbagai manuskrip Melayu


Syeikh Nik Mat - Hakim Mahkamah Syarie di Mekah


Berguru di Mekah - Syeikh Abdul Hamid tentang golongan tajdid


Ulama besar Mandailing - Wasiat pedoman ahli keluarga


Syeikh Abdul Wahhab Rokan - Mursyid tarekat yang berwibawa


Ulama Minangkabau - Kadi Kuala Lumpur yang pertama


Ulama Besar Jawa Tengah - Kiyai Muhammad Saleh Darat


Syeikh Abdul Qadir Bukit Bayas ulama paling berpengaruh di Terengganu


Tok Kenali ulama peringkat wali


Abdul Qadir Tuan Minal ulama dan ayah seorang pejuang


Tok Ku Paloh Al-Aidrus pejuang Islam dan bangsa Melayu


Saiyid Muhammad Al-'Aidrus Bapa Kesusasteraan Melayu Terengganu


Syeikh Junid Thala ulama terkenal di Mandailing dan Perak


Syeikh Faqih Ali al-Fathani tokoh pertama menulis sejarah Patani


Saiyid Alwi bin Thahir al-Haddad Mufti Kerajaan Johor


Saiyid Muhsin al-Masawi pengasas Dar al-Ulum di Mekah


Datuk Abdullah Musa - Mufti dan Hakim Besar Johor


Sultan Zainal Abidin III - Umara bertaraf dunia


Tok Wan Din al-Fathani - Penyalin karya Syeikh Daud al-Fathani


Syeikh Ahmad Khatib al-Minankabawi - Imam dan khatib Masjid al-Haram Mekah


Syeikh Nawawi al-Bantani - Digelar Imam Nawawi kedua


Raja Haji Abdullah - Yamtuan Muda Riau Ke IX


100 tahun kewafatan Syeikh Ahmad al-Fathani


Syeikh Muhammad Azhari al-Falimbani - Penyambung aktiviti ulama Palembang


Syeikh Ismail Al-Asyi - Ketua Mahasiswa Melayu pertama di Mesir


Muhammad Yasin - Ulama Kedah berhijrah ke Mempawah


Syeikh Abdul Lathif al-Fathani - Sebar Islam dengan seni lagu al-Quran


Syeikh Abdul Qadir al-Fathani Tok Bendang Daya II


Muhammad Sa'id Umar Kedah - Pengarang Tafsir Nur al-Ihsan


Ahmad Khathib Sambas - Mursyid Tariqat Qadiriyah


Tengku Ali Tengku Selat - Gembala perniagaan Melayu


Ja'afar Encik Abu Bakar Lingga - Gembala Khazanah Kerajaan Riau-Lingga


Raja Umar Hasan - Mudir Mathba'ah Al-Ahmadiah pertama


Raja Muhammad Tahir Riau - Hakim Riau-Lingga dan ulama falakiah


Tuan Minal al-Fathani - Karangannya rujukan ulama Melayu


Tuan Tabal - Penyebar Thariqat Ahmadiyah pertama di Nusantara


Syeikh Wan Ali Kutan - Guru para ulama Melayu


Abu Bakar al-Funtiani Ulama pengembara


Syeikh Jalaluddin al-Kalatani - Perintis pengajian pondok Seberang Perai


Haji Muhammad Nur - Kadi Kerajaan Langkat


Wan Ismail Al-Jambui Al-Fathani -- Kadi Jambu, Patani


Syeikh Abdur Rahman Shiddiq Al-Banjari - Mufti Kerajaan Inderagiri


Husein Kedah al-Banjari - Generasi penerus ulama Banjar


Imam Haji Mursyidi - Tokoh pentadbir Islam Sarawak


Ismail al-Kalantani - Mufti Kerajaan Pontianak


Gusti Muhammad Taufiq Aqamuddin Raja Mempawah terakhir


Muhammad Said Yan - Ulama yang berdikari


Raja Ali Kelana - Ulama pejuang Riau dan Johor


Sultan Sulaiman Selangor - Sultan yang mengasihi ulama


Tengku Muhammad al-Fathani - Ulama besar Jambi


Utsman Senik - Mufti Pahang selama 20 tahun


Sayid Syeikh Al-Hadi - Penyebar ilmu yang gigih


Syeikh Tahir Jalaluddin Al-Azhari - Ahli falak dunia Melayu


Abdul Rahman Al-Kalantani - Mufti terakhir kerajaan Mempawah


Umar Cik Ahmad - Tuan Guru Besut Terengganu


Tengku Mahmud Zuhdi - Syeikhul Islam Selangor


Abu Bakar Muar - Benteng pertahanan kaum tua


Abdullah Fahim - Ulama mahir ilmu falak